Selasa, 12 Agustus 2014

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PENGUKURAN 2 (TUGAS ALAT UKUR)

1. Kesalahan dalam Pengukuran
Dalam pengukuran besaran fisis menggunakan alat ukur atau instrumen, kalian tidak mungkin mendapatkan nilai benar. Namun, selalu mempunyai ketidakpastian yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam pengukuran. Kesalahan dalam pengukuran dapat digolongkan menjadi kesalahan umum, kesalahan sistematis, dan kesalahan acak. Berikut akan kita bahas macam-macam kesalahan tersebut.
a. Kesalahan Umum
Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang ketika mengukur termasuk dalam kesalahan umum. Kesalahan umum yaitu kesalahan yang disebabkan oleh pengamat. Kesalahan ini dapat disebabkan karena pengamat kurang terampil dalam menggunakan instrumen, posisi mata saat membaca skala yang tidak benar, dan kekeliruan dalam membaca skala. Perhatikan Gambar 1.6.
Gambar 1.6 Posisi mata saat membaca skala yang salah dan benar
Gambar 1.6 Posisi mata saat membaca skala yang salah dan benar.
b. Kesalahan Sistematis
Kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan alat ukur atau instrumen disebut kesalahan sistematis. Kesalahan sistematis dapat terjadi karena:
1) Kesalahan titik nol yang telah bergeser dari titik yang sebenarnya.
2) Kesalahan kalibrasi yaitu kesalahan yang terjadi akibat adanya penyesuaian pembubuhan nilai pada garis skala saat pembuatan alat.
3) Kesalahan alat lainnya. Misalnya, melemahnya pegas yang digunakan pada neraca pegas sehingga dapat memengaruhi gerak jarum penunjuk.
c. Kesalahan Acak
Selain kesalahan pengamat dan alat ukur, kondisi lingkungan yang tidak menentu bisa menyebabkan kesalahan pengukuran. Kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh kondisi lingkungan disebut kesalahan acak. Misalnya, fluktuasi-fluktuasi kecil pada saat pengukuran e/m (perbandingan muatan dan massa elektron). Fluktuasi (naik turun) kecil ini bisa disebabkan oleh adanya gerak Brown molekul udara, fluktuasi tegangan baterai, dan kebisingan (noise) elektronik yang besifat acak dan sukar dikendalikan.
2. Ketidakpastian Pengukuran
Kesalahan-kesalahan dalam pengukuran menyebabkan hasil pengukuran tidak bisa dipastikan sempurna. Dengan kata lain, terdapat suatu ketidakpastian dalam pengukuran. Dalam penyusunan laporan hasil praktikum fisika, hasil pengukuran yang kalian lakukan harus dituliskan sebagai:
x = x0 + Δx
Keterangan:
x = hasil pengamatan
x0 = pendekatan terhadap nilai benar.
Δx = nilai ketidakpastian.
Arti dari penulisan tersebut adalah hasil pengukuran (x) yang benar berada di antara x – Δx dan x + Δx. Penentuan x0 dan Δx tergantung pada pengukuran tunggal atau pengukuran ganda atau berulang.
a. Ketidakpastian dalam Pengukuran Tunggal
Jika mengukur panjang meja dengan sebuah penggaris, kalian mungkin akan mengukurnya satu kali saja. Pengukuran yang kalian lakukan ini disebut pengukuran tunggal. Dalam pengukuran tunggal, pengganti nilai benar (x0) adalah nilai pengukuran itu sendiri. Apabila kalian perhatikan, setiap alat ukur atau instrumen mempunyai skala yang berdekatan yang disebut skala terkecil. Nilai ketidakpastian (Δx) pada pengukuran tunggal diperhitungkan dari skala terkecil alat ukur yang dipakai. Nilai dari ketidakpastian pada pengukuran tunggal adalah setengah dari skala terkecil pada alat ukur.
Δx = ½ × skala terkecil
b. Ketidakpastian dalam Pengukuran Berulang
Dalam praktikum fisika, terkadang pengukuran besaran tidak cukup jika hanya dilakukan satu kali. Ada kalanya kita mengukur besaran secara berulang-ulang. Ini dilakukan untuk mendapatkan nilai terbaik dari pengukuran tersebut. Pengukuran berulang adalah pengukuran yang dilakukan beberapa kali atau berulang-ulang. Dalam pengukuran berulang, pengganti nilai benar adalah nilai rata-rata dari hasil pengukuran. Jika suatu besaran fisis diukur sebanyak N kali, maka nilai rata-rata dari pengukuran tersebut dicari dengan rumus sebagai berikut.
x = Σxi/N
x = nilai rata-rata
Σxi = jumlah keseluruhan hasil pengukuran
N = jumlah pengukuran
Nilai ketidakpastian dalam pengukuran berulang dinyatakan sebagai simpangan baku, yang dapat dicari dengan rumus:
s = N-1(√(nΣxi2) – (Σxi)2) (N-1)-1
Keterangan:
s = simpangan baku.
Dengan adannya ketidakpastian dalam pengukuran , maka tingkat ketelitian hasil pengukuran dapat diligat dari ketidakpastian relatif diperoleh dari hasil bagi antara nilai ketidakpastian (∆x) dengan nilai benar dikalikan dengan rumus 100%.
Ketidakpastian relatif =[ (∆x)/x] . 100%
Ketidakpastian relatif dapat digunakan untuk mengetahui tingkat ketelitian pengukuran. Semakin kecil nilai ketidakpastian relatif makin tinggi ketelitian pengukuran
KESALAHAN DAPAT DIGOLONGKAN :
    1. KESALAHAN KASAR (MISTAKE/ BLUNDERS)
    2. KESLAHAN SISTEMATIK (SYSTEMATIC ERROR)
    3. KESLAHAN RANDOM / TAK TERDUGA (OCCIDENTAL  ERROR
- See more at: http://belajar-teknik-sipil.blogspot.com/2010/03/kesalahan-kesalahan-dalam-pengukuran.html#sthash.lAEUaa3N.dpuf
KESALAHAN DAPAT DIGOLONGKAN :
    1. KESALAHAN KASAR (MISTAKE/ BLUNDERS)
    2. KESLAHAN SISTEMATIK (SYSTEMATIC ERROR)
    3. KESLAHAN RANDOM / TAK TERDUGA (OCCIDENTAL  ERROR)
SUMBER KESALAHAN
SUMBER KESALAHAN :
    1. SURVEYOR
    2. ALAT UKUR
    3. ALAM
1. KESALAHAN KASAR
KESALAHAN INI TERJADI KARENA :
    1. KURANG HATI-HATI/ GEGABAH
    2. KURANG PENGALAMAN / KURANG PERHATIAN
    3. KESALAHAN INI TIDAK BOLEH TERJADI, APABILA DIKETAHUI ADA KESALAHAN MAKA DIANJURKAN UNTUK MENGULANG KESELURUHAN ATAU SEBAGIAN.
CONTOH :
      SALAH BACA
      SALAH MENCATAT
      SALAH DENGAR
UNTUK MENGHINDARI KESALAHAN INI :
      PENGUKURAN LEBIH DARI SATU KALI
      PENGUKURAN DENGAN MODEL DAN TEKNIK TERTENTU
-  PENGUKURAN DILAKUKAN DENGAN 2 ORANG ATAU LEBIH SESUAI TUGASNYA..
- See more at: http://belajar-teknik-sipil.blogspot.com/2010/03/kesalahan-kesalahan-dalam-pengukuran.html#sthash.lAEUaa3N.dpuf

KESALAHAN KESALAHAN DALAM PENGUKURAN (TUGAS ALAT UKUR)

1. Kesalahan Sistematis
Kesalahan yang pertama adalah kesalahan sistematis dimana kesalahan sistematik adalah kesalahan yang tetap terjadi. Ada beberapa faktor yang akan menyebabkan terjadinya kesalahan sistematik tersebut diantaranya sebagai berikut:
a. Kesalahan alat Kesalahan seperti ini misalnya seperti kesalahan kalibrasi alat dan interaksi alat dengan lingkungan yang buruk, seperti tempat penyimpanan alat.
b. Kesalahan perorangan.pribadi
Kesalahan seperti melinatkan pengguna dari alat tersebut. Misalnya pada saat membaca skala yang ditunjukkan oleh alat mata kita tidak tegak lurus dengan skala yang dibaca. Jika pembacaan skala dibaca miring maka akan menyebabkan kesalahan pembacaan hasil pembacaan mengandung kesalahan paralaks.
c. Kondisi percobaan
Kondisi percobaan tidak sama dengan kondisi saat alat di kalibrasi.
d.  Teknik yang kurang sempurna
Teknologi yang diapakai dalam pengukuran atau langkah percobaan yang dialkukan terlalu sederhana, sehingga banyak faktor yang mempengaruhi percobaan tidak terukur
2. Kesalahan Tindakan pada saat percobaan
Kesalahan seperti ini kembali melibatkan perseorangan atau pribadi. Kesalahan tindakan umumnya disebabkan ketidaktelitian peneliti. Misalnya seperti mengukur waktu 8 ayunan, tidak disadari baru 7 ayunan sudah selesai. 
..........................................................................................................................................................
KESALAHAN DAPAT DIGOLONGKAN :
    1. KESALAHAN KASAR (MISTAKE/ BLUNDERS)
    2. KESLAHAN SISTEMATIK (SYSTEMATIC ERROR)
    3. KESLAHAN RANDOM / TAK TERDUGA (OCCIDENTAL  ERROR)
SUMBER KESALAHAN
SUMBER KESALAHAN :
    1. SURVEYOR
    2. ALAT UKUR
    3. ALAM
1. KESALAHAN KASAR
KESALAHAN INI TERJADI KARENA :
    1. KURANG HATI-HATI/ GEGABAH
    2. KURANG PENGALAMAN / KURANG PERHATIAN
    3. KESALAHAN INI TIDAK BOLEH TERJADI, APABILA DIKETAHUI ADA KESALAHAN MAKA DIANJURKAN UNTUK MENGULANG KESELURUHAN ATAU SEBAGIAN.
CONTOH :
      SALAH BACA
      SALAH MENCATAT
      SALAH DENGAR
UNTUK MENGHINDARI KESALAHAN INI :
      PENGUKURAN LEBIH DARI SATU KALI
      PENGUKURAN DENGAN MODEL DAN TEKNIK TERTENTU
-  PENGUKURAN DILAKUKAN DENGAN 2 ORANG ATAU LEBIH SESUAI TUGASNYA..
- See more at: http://belajar-teknik-sipil.blogspot.com/2010/03/kesalahan-kesalahan-dalam-pengukuran.html#sthash.lAEUaa3N.dpuf

KESALAHAN DAPAT DIGOLONGKAN :
    1. KESALAHAN KASAR (MISTAKE/ BLUNDERS)
    2. KESLAHAN SISTEMATIK (SYSTEMATIC ERROR)
    3. KESLAHAN RANDOM / TAK TERDUGA (OCCIDENTAL  ERROR)
SUMBER KESALAHAN
SUMBER KESALAHAN :
    1. SURVEYOR
    2. ALAT UKUR
    3. ALAM
1. KESALAHAN KASAR
KESALAHAN INI TERJADI KARENA :
    1. KURANG HATI-HATI/ GEGABAH
    2. KURANG PENGALAMAN / KURANG PERHATIAN
    3. KESALAHAN INI TIDAK BOLEH TERJADI, APABILA DIKETAHUI ADA KESALAHAN MAKA DIANJURKAN UNTUK MENGULANG KESELURUHAN ATAU SEBAGIAN.
CONTOH :
      SALAH BACA
      SALAH MENCATAT
      SALAH DENGAR
UNTUK MENGHINDARI KESALAHAN INI :
      PENGUKURAN LEBIH DARI SATU KALI
      PENGUKURAN DENGAN MODEL DAN TEKNIK TERTENTU
-  PENGUKURAN DILAKUKAN DENGAN 2 ORANG ATAU LEBIH SESUAI TUGASNYA..
- See more at: http://belajar-teknik-sipil.blogspot.com/2010/03/kesalahan-kesalahan-dalam-pengukuran.html#sthash.lAEUaa3N.dpuf

DEFINISI PENGUKURAN (TUGAS ALAT UKUR)

  1. DEFINISI
  2. I. Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.
    1. II.            Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Dalam fisika dan teknik, pengukuran merupakan aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-nyata. Alat pengukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut. Seluruh alat pengukur terkena error peralatan yang bervariasi. Bidang ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran dinamakan metrologi.
Fisikawan menggunakan banyak alat untuk melakukan pengukuran mereka. Ini dimulai dari alat yang sederhana seperti penggaris dan stopwatch sampai ke mikroskop elektron dan pemercepat partikel. Instrumen virtual digunakan luas dalam pengembangan alat pengukur modern.
  1. III.            Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan.
Contoh :
Mengukur panjang meja dengan pensil.
Panjang pensil digunakan sebagai satuan.
Hasil : panjang meja = 5 pensil.
Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka.
Satuan adalah pembagi dalam suatu pengukuran.
Satuan baku adalah satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang sama atau tetap untuk semua pengukuran.
Satuan tidak baku adalah satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil tidak sama untuk orang yang berlainan.
  1. Pengukuran adalah proses pemberian angka- angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.
  1. V.            Dalam ilmu pengetahuan, pengukuran adalah proses mendapatkan besarnya suatu kuantitas, seperti panjang atau massa, relatif ke unit pengukuran, seperti meter atau satu kilogram. Sebuah pengukuran menjawab pertanyaan umum, “berapa banyak?”, Seperti dalam berapa kilometer, atau milimeter, atau gigahertz. Seperti pengukuran pada dasarnya adalah tentang penghitungan, pengukuran dilakukan dalam jumlah dan kuantitatif, dibandingkan dengan lain pengamatan yang mungkin dibuat dalam kata-kata dan kualitatif. Istilah pengukuran juga dapat digunakan untuk mengacu ke hasil spesifik yang diperoleh dari proses pengukuran.
Pengertian pengukuran dalam Ilmu Pengetahuan Alam:
  1. Dalam fisika
Dalam fisika dan teknik, pengukuran merupakan aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-nyata. Alat pengukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut. Seluruh alat pengukur terkena error peralatan yang bervariasi. Bidang ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran dinamakan metrologi.
Fisikawan menggunakan banyak alat untuk melakukan pengukuran mereka. Ini dimulai dari alat yang sederhana seperti penggaris dan stopwatch sampai ke mikroskop elektron dan pemercepat partikel. Instrumen virtual digunakan luas dalam pengembangan alat pengukur modern.

Kamis, 05 Juni 2014

UJIAN SMESTER KAJIAN FISIKA (RPP BESARAN DAN SATUAN)



Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Satuan Pendidikan          :
Mata pelajaran                 : IPA
Kelas/semester                                : VII/II

A.KOMPETENSI INTI
1.Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.Menghargai dan menghayati perilaku jujur,disiplin,tanggung jawab,peduli (toleransi,gotong royong),santun,percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dalam lingkungan social dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3.Memahami pengetahuan (factual,konseptual dan procedural) berdasarkan rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan dan tekhnologi ,seni budaya terkait kejadian fenomena yang tampak mata
B.KOMPETENSI DASAR
1.1.Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik dan kimiawi,kehidupan dalam ekosistem dan peranan manusia dalam lingkungan serta mewujudkannya  dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya
2.1.Menunjukkan perilaku ilmiah(memiliki rasa ingin tahu;objektif;jujur;teliti;cermat;tekun;hati-hati;bertanggung jawab;terbuka;kritis;kreatif;inovatif dan peduli lingkungan ) dalam aktifitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pengamatan,percobaan dan berdiskusi.
2.2.Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktifitas sehari-hari  sebagai wujud implementasi melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan
3.1.Memahami konsep pengukuran besaran yang ada pada diri,makhluk hidup,dan lingkungan fisik sekitar sebagai bagian dari hasil observasi,serta pentingnya perumusan satuan terstandard(baku) dalam pengukuran
C.INDIKATOR
1.Mampu menjelaskan pengertian dari besaran
2.Memahami pembagian dari besaran
3.Mampu menjelaskan dan memberikan contoh tentang besaran pokok dan besaran turunan

D.TUJUAN PEMBELAJARAN
1.Siswa mampu menjelaskan pengertian dari besaran
2.Siswa mampu menjelaskan pembagian dari besaran
3.Siswa mampu menjelaskan dan memberikan contoh tentang besaran pokok dan besaran turunan
E.ALOKASI WAKTU
1 Jam pelajaran
F.METODE PEMBELAJARAN
1.Scientific approach
G.MATERI
1.Pengertian besaran
Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan hasil ukurannya dapat dinyatakan dengan angka
2.Pembagian besaran
Besaran terbagi atas 2:
a.Besaran pokok
b.Besaran turunan’
3.Pengertian besaran pokok dan turunan serta variannya
a.Besaran pokok adalah besaran utama
terdiri atas:
#Panjang(km,hm,dam,m,dm,cm,mm)
#Massa(kg,hg dag,g,dg,cg,mg)
#Waktu(Jam,menit,detik)
#Kuat arus (ampere)
#Suhu(Kelvin)
#Intensitas cahaya(candela)
#Jumlah Zat (mole)

b.besaran turuanan adalah besaran yang diturunkan dari dua atau lebih besaran pokok
besaran turunan  terdiri atas :
#Luas(m2)
#Volume(m3)
#Percepatan(2)
#Massa Jenis (kg/m3)
H.LANGKAH LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan awal



HALYANG INGIN DIKEMBANGKAN


NO
KEGIATAN BELAJAR
ALOKASI WAKTU
ASPEK KOGNITIF
ASPEK PSIKOMOTOR
ASPEK AFEKTIF
1
APERSEPSI




2
MOTIVASI




KEGIATAN INTI
1
Mengamati /mengumpulkan data tentang besaran




2
Menanya dan mengolah




3
Menduga,menalar dan menyimpulkan tentang besaran




4
Menyajikan mempertahankan dan konfirmasi





KEGIATAN AKHIR
1
Refleksi




2
Tugas diluar tatap muka





a.Tugas terstruktur





b.tugas mandiri




I.ALAT /SUMBER BELAJAR
1.BUKU PANDUAN YANG RELEVAN
2.MEDIA ELEKTRONIKA DAN TELEKOMUNIKASI
J.PENILAIAN
LEMBAR KERJA
PORTOFOLIO


Kepala sekolah                                                                                  Guru mata pelajaran

                                                                                Prof.Dr.Megariza.Marescha.Lady.Runtuwene,Mpd

Rabu, 04 Juni 2014

OSILATOR (ELKA II)

Osilator

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Osilator adalah suatu rangkaian yang menghasilkan keluaran yang amplitudonya berubah-ubah secara periodik dengan waktu. Keluarannya bisa berupa gelombang sinusoida, gelombang persegi, gelombang pulsa, gelombang segitiga atau gelombang gigi gergaji.

Teori rangkaian

Osilator bisa dibangun dengan menggunakan beberapa teknik dasar, yaitu:
  1. Menggunakan komponen-komponen yang memperlihatkan karakteristik resistansi negatif, dan lazimnya menggunakan diode terobosan dan UJT
  2. Menggunakan umpanbalik positif pada penguat. Umpanbalik positif menguatkan desah internal yang terdapat pada penguat. Jika keluaran penguat sefasa dengan masukkannya, osilasi akan terjadi.

Topologi kalang osilator sinus

Banyak rangkaian yang dapat dipakai untuk membangkitkan gelombang sinus. Dan yang paling populer adalah Osilator Clapp,Osilator Colpitt,Osilator kristal, dan jembatan Wien. Setiap tipe mempunyai keuntungan khusus dan daerah penerapan masing-masing. Jembatan Wien banyak dipakai dalam osilator frekuensi audio terutama karena kemantapan frekuensinya yang baik dan relatif mudah dibuat.

Persyaratan osilator sinus

Persyaratan utama bagi osilator sinus adalah,
  1. Frekuensi spesifik yang dapat dicapai
  2. Amplitudo keluaran
  3. Kemantapan frekuensi
  4. Kemurnian keluaran, yaitu perbandingan banyaknya cacat harmonik dalam bentuk gelombang keluaran.
Amplitudo yang benar dan cacat yang sedikit dapat diperoleh dengan mengendalikan penguatan penguat sedemikian rupa sehingga tepat cukup untuk mengganti kerugian-kerugian dalam kalang penentu frekuensi. Dalam beberapa penerapan, kemantapan frekuensi menjadi prioritas. Perubahan-perubahan dalam frekuensi keluaran dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Untuk jangka panjang, hanyutan harga komponen dan parameter karena penuaan menjadi sebab utama. Perubahan jangka pendek dara disebabkan oleh:
  1. Variasi beban, hal ini dapat dikurangi dengan menggunakan penguat penyangga pada keluaran.
  2. Pencatu daya, perubahan-perubahan dalam tegangan pencatu daya akan mengubah parameter-parameter dalam kalang, pencatu daya dimantapkan menyelesaikan masalah ini.
  3. Perubahan harga komponen karena suhu, hal ini terutama memengaruhi komponen penentu frekuensi. Semua komponen pasif berubah harganya karena suhu

SEKILAS TENTANG KURIKULUM 2013 YG MULAI BERLAKU 14 JULI

Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Pada materi diklat Implementasi Kurikulum 2013 ini, peserta diklat diarahkan untuk lebih mengenal dan mengimplementasikan substansi yang terdapat di dalam kurikulum tahun 2013 sebagai kurikulum pendidikan terbaru saat ini. Ada 5 sub materi yang diberikan untuk menjelaskan hal tersebut, yaitu : 1. Rasional Kurikulum 2013, 2. Elemen Perubahan Kurikulum 2013, 3. Konsep Pendekatan Scientific, 4. Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar, 5. Penilaian Autentik dalam Matematika.
Sub materi I (Rasional Kurikulum 2013) menjelaskan tentang latar belakang diperlukannya Kurikulum 2013, diantaranya adalah untuk menjawab tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 Standar Nasional Pendidikan, tantangan internal terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif, tantangan eksternal (kompetensi masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, dan fenomena negatif yang mengemuka). Oleh karena itu, seiring dengan tujuan pendidikan nasional dan kurikulum sebelumnya (KBK 2004 dan KTSP 2006) maka pengembangan kurikulum 2013 secara sistematis diarahkan untuk : a. Penataan pola pikir dan tata kelola, b. Pendalaman dan perluasan materi, c. Penguatan proses, d. Penyesuaian beban. Kemudian dijelaskan pula secara teknis tentang pola pikir perumusan kurikulum, langkah penguatan proses, dan penyesuaian beban guru dan murid dengan harapan dapat meraih keseimbangan antara sikap, keterampilan dan pengetahuan untuk membangun soft skills dan
hard skills
.
Sub materi II (Elemen Perubahan Kurikulum 2013) menjelaskan tentang kedudukan dan ruang lingkup Elemen Perubahan di antara Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses, Standar Isi, dan Standar Penilaian.Parameter elemen perubahan tersebut terdiri dari : a. Kompetensi Lulusan (adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan), b. Kedudukan mata pelajaran (ISI) (Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi), c. Pendekatan (ISI) (Potensi yang dikembangkan melalui tematik atau mata pelajaran, disesuaikan dengan jenjang pendidikan), d. Struktur Kurikulum (Mata pelajaran dan alokasi waktu)(ISI), e. Proses Pembelajaran, f. Penilaian hasil belajar , g. Ekstrakurikuler. Selanjutnya, dijelaskan pula pembahasan tentang perbedaaan esensial kurikulum 2013 dengan kurikulum lama (KTSP 2006), perubahan untuk semua mata pelajaran (IPS, IPA, Matematika, Bahasa Indonesia/ Inggris) dan proses yang mendukung kreativitas.
Sub materi III (Konsep Pendekatan Scientific) menjelaskan tentang Kriteria Konsep Pendekatan Scientific, dan langkah-langkah pembelajaran yang perlu ditempuh. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.
Sub materi IV (Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar) menjelaskan bahwa Penilaian Autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Hal-hal yang dibahas selanjutnya adalah : a. Penilaian autentik dan tuntutan kurikulum 2013, b.Penilaian autentik dan pembelajaran autentik, c. Jenis-jenis penilaian autentik (penilaian kinerja, proyek, portofolio, dan tertulis).
Sub materi V (Penilaian Autentik dalam Matematika) menjelaskan tentang : a. konsep penilaian untuk peningkatan kualitas belajar, b. perbedaan antara penilaian autentik dan penilaian tradisional, c. teknik dan instrument penilaian autentik, d. aspek penilaian autentik matematika (pemahaman konsep matematika, keterampilan matematika, pemecahan masalah, dan sikap matematis), e. teknik penilaian autentik melalui pengamatan langsung, tanya jawab, tugas, tes, portofolio, dan teknik kombinasi untuk mendapatkan gambaran faktual.
Demikian ringkasan materi diklat ”Implementasi kurikulum 2013” yang sangat informatif untuk memperluas wawasan peserta diklat walaupun sepertinya masih banyak permasalahan dan pertanyaan teknis lainnya yang bisa dibahas dan dikembangkan lebih dalam serta menarik untuk didiskusikan.

COVID-19 SUDAH DI RENCANAKAN? TERBUKTI DENGAN KEHADIRAN ORANG2 TANPA IDENTITAS TAHUN 2018?

 Saya sudah mengangkat kehadiran orang2 tanpa identitas yang masuk ke rumah kami secara misterius mengaku datang dari 3 daerah beda, ayah ib...